Enough is Enough

Ah, senangnya akhirnya punya bahan bakar untuk menulis lagi. Karena lagi resah dan sepertinya lebih baik kalau aku simpan di sini, jadi mau ngomongin soal ini deh.

Belakangan aku sering ngeliat thread yang format yang kurang lebih begini:

Istri to single.
Single to istri.
Ibu to childfree.
Childfree to ibu.

Lalu lanjut paket kalimat, "Ini namanya..." yang berisi penjelasan tentang bagaimana fase hidup yang lagi dijalani sekarang yang beda dengan lawan tujuannya.

Awalnya aku mencoba memahami, "oh mungkin mau ngasih POV yang beda kali ya". Mungkin, friendly reminder bahwa fase hidup yang lagi dijalani ini, yang beda dengan yang lain pun menyenangkan.

Tapi entah kenapa, makin kesini, rasanya makin ngga nyaman tiap membaca. Bukan karena aku tersinggung dengan salah satu posisi. Bukan juga karena aku merasa pilihan hidup tertentu salah.

Yang buat aku ngga nyaman adalah cara pesannya disampaikan. Sering kali, tanpa sadar, narasinya berubah menjadi semacam perlombaan.

Seolah-olah:
"Aku udah pernah ada di sana, sekarang aku di sini. Percayalah, ini yang terbaik!"

Padahal setiap orang lagi ada di timeline-nya masing-masing.

Orang yang masih single lagi menikmati kebebasannya sebelum menikah.

Orang yang baru menikah lagi menikmati fase berbunga-bunganya.

Orang yang belum punya anak lagi menikmati waktu berdua.

Orang yang baru jadi orang tua lagi menikmati peran dan suasana baru.

Kalo dipikir-pikir, setiap fase memang menyenangkan dan punya tantangannya sendiri. Kenapa kita merasa harus membandingkan satu fase dengan fase lainnya agar sebuah pelajaran terdengar valid?

Yang lebih aku takutkan dari tren kaya gini adalah memberi kesan bahwa pilihan kita yang sekarang adalah yang terbaik, dan memandang orang yang ngga memilih pilihan yang sama dengan kita itu salah.

Padahal hidup selalu bergerak.

Hari ini tidak akan datang dua kali.

Versi dirimu yang masih tinggal sendiri tidak akan kembali.

Versi dirimu yang baru menikah juga tidak akan kembali.

Versi anakmu yang masih balita pun suatu hari akan hilang.

Semua fase adalah "once in a lifetime." Kalo kata Tulus sih "kecil hanya sekali, muda hanya sekali, hiduplah kini"

Karena mungkin, nanti beberapa tahun lagi, justru hari yang sekarang akan menjadi fase yang paling kita rindukan.

Living for today bukan berarti stuck di zona nyaman.

Tapi memberi kesempatan pada diri sendiri untuk benar-benar hadir di fase yang sedang dijalani.

Karena setiap fase itu penting. Dan tidak ada yang akan terulang. Satu-satunya yang pasti di hidup kita adalah: Kematian.

Kabar baiknya : kita akan meninggal. Tak perlu terlalu khawatir sama semua hal menyebalkan dan menyesakkan yang terjadi di dunia, kita semua akan pulang dan semua itu akan berakhir.
Kabar buruknya : kita akan meninggal. Kita ngga punya waktu lama, segala hal yang kita lakukan di dunia, akan dimintai pertanggungjawaban. 
Maka, hiduplah kini, dengan sebaik-baiknya kehidupan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Just A Newlywed Who Learned

Life-shifting.

BANDUNG’S ESCAPED: Cerita dari Bumi Pasundan