Barangkali, Ini Alasan Aku Menikah.
Aku pernah ditanya beberapa orang saat mengabarkan kalau aku akan menikah, kurang lebih seperti ini:
"Kamu kenapa menikah, Tir? Padahal tanpa menikah pun kita tetap bisa melakukan banyak hal."
Dan jujur, aku selalu bingung mau jawab dari POV mana.
Aku percaya, menikah bukan satu-satunya jalan untuk bertumbuh. Tidak menikah pun seseorang tetap bisa mengejar mimpi, membangun karier, berkeliling dunia, berkarya, mencintai hidupnya, bahkan memberi manfaat untuk banyak orang.
Jadi, jawabanku bukan karena aku merasa hidup akan "lengkap" setelah menikah.
Justru sebelum menikah, aku cukup lama bergumul dengan pertanyaan itu. Karena aku tahu pernikahan bukan sekadar pesta, bukan sekadar status baru, dan tentu bukan sesuatu yang bisa dicoba lalu dibatalkan ketika keadaan tidak lagi nyaman.
Pernikahan itu mengikat.
Dan di zaman ketika banyak hubungan dibangun di atas perasaan yang bisa datang dan pergi, gagasan tentang sebuah ikatan yang benar-benar mengikat justru terasa menakutkan.
Sampai suatu hari aku menemukan satu istilah dalam Al-Qur'an yang pelan-pelan mengubah cara pandangku.
Mitsaqan Ghalizha.
Sebuah istilah yang Allah gunakan untuk menggambarkan akad pernikahan.
Yang menarik, kata ini bukan kata yang digunakan untuk janji biasa. Mitsaqan ghalizha berarti perjanjian yang kokoh, berat, dan penuh tanggung jawab. Dalam Al-Qur'an, istilah ini hanya disebut beberapa kali untuk menggambarkan janji yang sangat agung. Salah satunya adalah ikatan antara suami dan istri dalam QS. An-Nisa ayat 21.
Saat pertama kali membaca maknanya, rasanya seperti berdebar-debar.
Berarti, sejak awal Allah memang tidak pernah mendesain pernikahan sebagai hubungan yang dipertahankan hanya karena sedang saling mencintai.
Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa.
Ada komitmen.
Ada amanah.
Ada janji yang diucapkan bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah.
Semakin aku mempelajari makna mitsaqan ghalizha, semakin aku menyadari bahwa ternyata menikah bukan hanya tentang merasa siap secara finansial atau mental. Dua hal itu penting, tetapi ternyata belum cukup.
Ada satu kesiapan lain yang sering luput dibicarakan: siap untuk terus belajar agama.
Karena setelah akad diucapkan, akan muncul begitu banyak pertanyaan yang sebelumnya mungkin tidak pernah terpikirkan. Bagaimana cara memperlakukan pasangan ketika sedang marah? Apa hak dan kewajiban masing-masing? Bagaimana menyelesaikan konflik dengan adab yang diajarkan Islam? Bagaimana mengelola rezeki, mendidik anak kelak, hingga hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari yang ternyata memiliki tuntunan.
Aku justru merasa, menikah membuatku sadar betapa sedikitnya ilmu yang kumiliki.
Dan itu bukan hal yang membuatku takut, tapi membuatku ingin terus belajar. Karena rasanya akan sangat rentan menjalani pernikahan hanya berdasarkan ego, kebiasaan, atau contoh yang kita lihat sejak kecil. Padahal Allah sudah memberikan banyak petunjuk agar kita tidak berjalan dengan kebingungan.
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku memandang pernikahan sebagai perjalanan belajar seumur hidup. Bukan karena setelah menikah kita otomatis menjadi orang yang paling siap, tetapi karena kita bersedia terus membuka diri untuk belajar, memperbaiki diri, dan kembali kepada tuntunan-Nya setiap kali tidak tahu harus melangkah ke mana.
Apakah itu mudah?
Tentu tidak.
Tidak ada yang bisa menjamin bahwa dua manusia akan selalu baik-baik saja.
Tidak ada yang bisa memastikan perjalanan rumah tangga akan selalu dipenuhi kebahagiaan.
Namun justru karena tidak ada jaminan itulah, Allah menghadirkan sebuah janji yang kokoh sebagai fondasinya.
Bukan supaya kita merasa terbebani.
Melainkan supaya kita selalu ingat bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada ego, lebih besar daripada emosi sesaat, dan lebih besar daripada keinginan untuk menyerah.
Ada satu hal lagi yang baru benar-benar kupahami setelah menjalani pernikahan.
Menikah ternyata bukan garis akhir dari perjalanan menjadi manusia yang baik. Kami masih sama-sama belajar. Masih sama-sama punya kekurangan. Masih melakukan kesalahan. Masih membawa dosa yang semoga Allah ampuni.
Kalau hari ini orang lain melihat kami baik-baik saja, aku percaya itu lebih karena Allah yang berkenan menutupi banyak kekurangan kami daripada karena kami sudah menjadi pasangan yang sempurna.
Dan mungkin salah satu bentuk cinta yang ingin terus kami pelajari adalah saling menjaga marwah satu sama lain.
Bukan dengan berpura-pura bahwa pasangan tidak pernah salah, tetapi dengan memilih untuk tidak menjadikan kekurangannya sebagai konsumsi orang lain. Sebagaimana kami berharap Allah terus menutupi aib-aib kami, semoga kami pun diberi kemampuan untuk saling menutupi aib, saling menjaga kehormatan, saling mendoakan dalam diam, dan saling menguatkan ketika hanya kami berdua yang tahu betapa beratnya sebuah hari.
Karena pada akhirnya, rumah tangga bukan tentang dua orang yang berhasil terlihat sempurna di hadapan manusia. Melainkan dua orang yang terus berusaha pulang kepada Allah, sembari menjaga amanah yang telah Dia titipkan melalui sebuah mitsaqan ghalizha.
Walau sampai saat ini aku tetap selalu gelisah dan khawatir jika terpapar dengan cerita-cerita konflik rumah tangga di media sosial(mungkin karena algoritma media sosial memang tahu apa yang membuat kita berhenti menggulir layar).
Aku bahkan cukup sering mengobrol dengan Mba Za tentang kegelisahan itu.
Kami juga sama-sama menyadari, mungkin cerita-cerita itu hadir bukan tanpa alasan. Mungkin memang itu satu-satunya ruang yang mereka miliki untuk bercerita. Mungkin ada begitu banyak kompromi yang sudah dijalani, begitu banyak air mata yang sudah ditahan, hingga akhirnya mereka memilih membagikan kisahnya. Jadi, kami pun tidak ingin menghakimi siapa pun yang sedang berbagi luka.
Hanya saja, di tengah semua percakapan itu, Mba Za berkali-kali bilang soal ini, kurang lebih seperti ini:
"Menikah bukan cuma relasi kita ke suami, tapi juga relasi kita ke Allah, Tir. Ini jalan ibadah sebagai individu. Lewat menikah, semoga Allah kasih kebaikan-kebaikan di dunia karena kita menjalankan peran ini dengan baik."
Dari yang semula sibuk bertanya, "Bagaimana aku harus menjaga pasanganku?" menjadi, "Bagaimana ya caranya aku bisa menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya di hadapan Allah?"
Karena ternyata, pernikahan bukan hanya tentang menemukan pasangan yang baik.
Tetapi juga tentang belajar menjadi hamba yang lebih baik.
Dan sejak saat itu, doa-doaku pun ikut berubah.
Aku tidak lagi hanya meminta rumah tangga yang bahagia.
Aku juga meminta agar Allah menjadikan pernikahan ini sebagai salah satu jalan yang mengantarkanku menuju surga-Nya.
Semoga melalui peran kecilku sebagai seorang istri, melalui proses belajar yang tidak pernah selesai, melalui upaya untuk terus memperbaiki diri, Allah berkenan menerima semua itu sebagai amal yang mendekatkanku kepada-Nya.
Meski ya... kalau boleh jujur nih, aku juga masih sering bernegosiasi dalam doa.
"Ya Allah... semoga ujiannya jangan yang bikin nangis-nangis banget ya..." hehe.
Aku tahu setiap orang pasti akan diuji dengan cara yang berbeda. Dan tidak ada rumah tangga yang benar-benar bebas dari ujian. Tapi sebagai manusia, rasanya aku tetap ingin memohon kelembutan dari-Nya.
Semoga kalau pun harus diuji, Allah hadirkan bersama kekuatan untuk menjalaninya. Semoga kalau pun harus menangis, air mata itu selalu membawa kami semakin dekat kepada-Nya, bukan semakin jauh dari-Nya.
Komentar
Posting Komentar